Tampilkan postingan dengan label my lovely KKMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my lovely KKMI. Tampilkan semua postingan

Rilis Pers KKMI

Pada hari senin, 11 April 2011 bertempat di gedung Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) beberapa mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Libya melakukan jumpa pers. Pada pertemuan tersebut, untuk mahasiswa Indonesia (Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia) diwakili oleh Saudara M. Miftakhur Risal selaku ketua KKMI dan dari mahasiswa Libya Saudara Abdul Razaq selaku ketua Himpunan Mahasiswa Libya di Indonesia masing-masing menyampaikan aspirasi mereka.

Pemilu “Senyaman Mungkin” KKMI


Menilik perkembangan KKMI akhir-akhir ini, minimal dari tahun 2006 hingga medio 2010 ini, kita mendapat suguhan “menarik” seputar selalu adanya “konflik” di tubuh KKMI.  Di awal tahun 2006 hingga akhir 2007 konflik terjadi antar kepentingan ormas yang berada di tubuh KKMI. 2008 konflik terjadi antara KKMI dan KBRI bahkan hingga menyulut pemutusan hubungan sementara antar keduanya. Tahun 2009 konflik terjadi antara KKMI dan Pihak Kampus dan sempat mengakibatkan dibekukannya seluruh kegiatan KKMI selama hampir 2 bulan. Dan di tahun 2010 konflik terjadi karena ketiadaan komitmen terhadap putusan organisasi seputar temus haji.

Kreatifitas dan Teori Relevansi



Kreatifitas selalu menjadi hal yang terus didengungkan dalam kehidupan berorganisasi. Karakteristik suatu perkumpulan bisa disebut sebagai organisasi eksis_ di samping mempunyai tujuan yang jelas_ adalah apabila ada kreasi dari anggotanya untuk memajukan perkumpulan yang ada, dan bukan memanfaatkannya sebagai wadah kumpul belaka. Organisasi tanpa kretifitas sudah pasti akan mandeg dan tinggal menuju ajal. Maka, ide kreatif adalah mutlak bagi setiap organisasi. Kreatif tidak serta merta saya artikan dengan memulai sesuatu yang baru, tidak pula saya artikan dengan penemuan-penemuan penting. Titik berat dari kata kreatif di sini adalah gagasan yang mengarah kepada usaha untuk menjaga eksistensi organisasi di tengah-tengah perkembangan jaman. Sehingga kreasi tersebut bisa dalam bentuk ide baru, penemuan baru, terobosan baru, dsb; dan bisa juga dalam bentuk: penyempurnaan kegiatan, format ulang suatu acara, kaji ulang suatu program, mengkondisikan program lama dengan tantangan baru yang ada, mengembangkan kinerja, membuat kemasan yang berbeda dari sebelumnya, cara yang berbeda, metodologi berbeda, dsb. Intinya, kreatif dalam konteks ini tidak menafikan warisan-warisan lama yang relevan untuk dipertahankan.