.jpg)
Kreatifitas selalu menjadi hal yang terus didengungkan dalam kehidupan berorganisasi. Karakteristik suatu perkumpulan bisa disebut sebagai organisasi eksis_ di samping mempunyai tujuan yang jelas_ adalah apabila ada kreasi dari anggotanya untuk memajukan perkumpulan yang ada, dan bukan memanfaatkannya sebagai wadah kumpul belaka. Organisasi tanpa kretifitas sudah pasti akan mandeg dan tinggal menuju ajal. Maka, ide kreatif adalah mutlak bagi setiap organisasi. Kreatif tidak serta merta saya artikan dengan memulai sesuatu yang baru, tidak pula saya artikan dengan penemuan-penemuan penting. Titik berat dari kata kreatif di sini adalah gagasan yang mengarah kepada usaha untuk menjaga eksistensi organisasi di tengah-tengah perkembangan jaman. Sehingga kreasi tersebut bisa dalam bentuk ide baru, penemuan baru, terobosan baru, dsb; dan bisa juga dalam bentuk: penyempurnaan kegiatan, format ulang suatu acara, kaji ulang suatu program, mengkondisikan program lama dengan tantangan baru yang ada, mengembangkan kinerja, membuat kemasan yang berbeda dari sebelumnya, cara yang berbeda, metodologi berbeda, dsb. Intinya, kreatif dalam konteks ini tidak menafikan warisan-warisan lama yang relevan untuk dipertahankan.
Judul Buku : Ha Kadza 'Allamatni al Hayat.
Penulis : Dr. Mustofa as Siba'i
Penerbit : Dar as Salam, Cairo, Mesir.
Tahun Terbit : 2006 ( cetakan IV )
Tebal : 240 halaman.
Ditengah ghozwul fikri yang terus berkembang di dunia Islam, maka buku-buku pun menjadi medan yang paling representatif untuk mempresentasikan pemikiran dari para muallifnya. Hal yang patut kita syukuri karena itu berarti perkembangan berpikir yang luar biasa dari para pemikir Islam yang akan mengantar pada diskusi, seminar, maupun halaqoh-halaqoh ilmiah lainnya. Namun di satu sisi, tersebarnya buku-buku akibat ghozwul fikri ini terkadang justru mengantar kepada perpecahan. Karena buku yang bersumber dari suatu golongan dan berisi kritik serius terhadap golongan lain tentu akan membawa dampak yang luar biasa di kalangan bawah. Meskipun "orang atas" dari masing-masing golongan terlihat akur dan rukun. Oleh sebab itu nampaknya kaum muslimin mulai mengalihkan perhatiannya dari buku-buku "lokal" golongan tertentu kepada karangan-karangan yang menyejukkan atau me-ninabobo-kan mereka dari panasnya arus ghozwul fikri saat ini.

Indonesia adalah negara yang majemuk. Majemuk di sini mengandung pengertian bahwa sebagai suatu bangsa, Indonesia memiliki berbagai macam suku berikut adat istiadatnya, menampung berbagai macam agama berikut ajaran-ajarannya, dan merupakan tempat berkembang bagi puluhan partai yang mempunyai visi dan misi yang berbeda.
Dengan kondisi plural seperti ini, ditambah dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan terpisahnya satu daerah dengan yang lainnya oleh hamparan laut, bangsa Indonesia jelas membutuhkan alat pemersatu. Komitmen untuk bersatu jelas merupakan harga mati bagi Indonesia. Adalah Sumpah Pemuda 1928 yang telah menelurkan beberapa alat pemersatu bangsa yang kesemuanya bermuara kepada satu kata : Nasionalisme!
Berbicara dalam kaca mata agama, Islam sendiri sebagai agama yang cinta dami dan menjunjung tinggi toleransi haruslah juga mempunyai peran yang signifikan dalam usaha menuju terciptanya iklim nasionalisme tersebut. Islam lewat tangan para pemudanya haruslah dapat mengaplikasikan nilai-nilai nasionalisme yang pernah dipraktekkan Rasulullah Saw semasa di Madinah. Apa yang penulis sampaikan dalam esai ini, tidak lain adalah upaya untuk menggugah rasa nasionalisme pemuda muslim demi mewujudkan usaha kita bersama menata bangsa Indonesia.

Libya yang terletak di Benua Afrika merupakan salah satu negara yang menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa resminya. Negara berbentuk sosialis ini juga terkenal dengan sebutan negara hijau karena memiliki bendera berwarna hijau dan kitab undang-undang berjudul " Green Book". Libya yang sebenarnya termasuk negara kaya Afrika tidak seperti layaknya negara-negara kaya lain, pembangunan di Libya seperti baru akan dimulai, kekayaan alam seperti baru akan dieksploitasi, dan administrasi yang lain seperti baru akan menuju profesionalisme. Maklum negeri ini baru beberapa tahun bebas dari boikot Amerika.

